Selasa, 06 April 2010

BATIK

“Batik China “ Tak Perlu Dikhawatirkan
Kekhawatiran sejumlah kalangan serbuan “Batik China” di anggap berlebihan oleh kalangan industry batik didalam negeri. Kekhawatiran yang disulut berlakunya Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China mulai tahun 2010 ini sebenarnya tidak berlakunya terhadap produk batik karena perbedaan pengertian tentang batik serta kondisi pasar didalam negeri.
Menurut salah seorang yang mewakili pengusaha Solo, ACFTA menuntut perhatian ekstra terhadap produk-produk local. ACFTA menimbulkan ancaman serius yang bisa mengakibatkan kerugian, bahkan kematian industry didalam negeri. Produk dari china akan bebas masuk ke Indonesia dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang bersaing. Tapi hal itu disanggah dari salah satu pengusaha dari kampong batik Laweyan, Solo, menurutnya, pihaknya tidak cemas akan isu membanjirnya batik China. Batik sejati dinilai bersifat tren yangberubah secara berkala,. Punya pangsa pasar sendiri dan hanya bisa dibuat perajin didalam negeri.
Batik China koleksi museum bukan batik yang dibuat di China, melainkan batik yang menggunakan motif dan ragam hias dari budaya China. Selain pewarnaannya yang khas, dominan warna merah dan biru, ragam hiasnya ditandai ikon burung hong, kilin, mega mendung, dan banji.
Dimuseum Danar Hadi Solo, terdapat koleksi batik china kuno paling lengkap dan satu-satunya di dunia. Koleksi batik china kuno yang dikumpulkan sejak tahun 1980 ada yang diproduksi pada tahun 1840 biasanya digunakan untuk ritual,sedangkan yang pascatahun 1910 merupakan produksi masal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar