Selasa, 23 Maret 2010

MEMBENTUK KEPRIBADIAN MANDIRI PETERNAK DALAM UPAYA MENCAPAI KEBERHASILAN USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH MELALUI KOPERASI

Usaha ternak sapi perah rakyat sampai saat ini masih eksis tetapi skala
usahanya berkisar antara 2-5 ekor per peternak. Peternakan sapi perah small holder
dapat ditingkatkan kalau skala tersebut dapat mencapai tingkat efisiensi yang optimal
dengan memperhatikan berbagai kendala yang ada dan skala usaha hendaknya tetap
dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi untuk skala keluarga, yaitu antara 6-10
ekor per peternak. Apabila dilihat dalam suatu wilayah Kawasan Industri Peternakan
(Kinak), usaha sapi perah rakyat merupakan “perusahaan” besar yang dapat
memberikan sumbangan cukup berarti dalam pembangunan. Pengkajian terhadap
sapi perah rakyat dalam suatu wilayah sangat penting terutama tentang kualitas
sumber daya manusia khususnya pada masyarakat peternak yang erat kaitannya dalam
pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak suatu introduksi teknologi.
Produktivitas sapi perah di Indonesia masih rendah yaitu 10-12 liter/ekor/hari,
yang apabila dibandingkan dengan produktivitas sapi perah di negara maju yaitu
sekitar 25-30 liter/ekor/hari, maka jelaslah bahwa ternak sapi perah di Indonesia masih
jauh tertinggal. Dengan demikian produksi susu segar dalam negeri relatif masih
rendah dan belum mampu untuk mencukupi permintaan dalam negeri. Hampir dua
per tiga dari kebutuhan konsumsi susu masyarakat masih harus diimpor (Ditjen Bina
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2004).
Selanjutnya dinyatakan bahwa produksi Susu Sapi Dalam Negeri (SSDN) pada
lima tahun terakhir (1998-2002) mengalami peningkatan sebesar 24 % dari 375.382
ton (1998) menjadi 493.375 ton (2002). Propinsi Jawa Timur dan Jawa Barat
merupakan propinsi terbesar penghasil susu.
Pada sisi permintaan, tingkat konsumsi susu masyarakat di Indonesia baru
mencapai 5,79 kg/kap/tahun (2001). Tingkat pencapaian ini masih jauh dari standar
gizi yang ditentukan yakni 7,2 kg/kap/tahun. Berdasarkan sisi pemasaran, sebagian
besar hasil produksi dalam negeri (90%) dipasarkan ke Industri Pengolahan Susu (IPS)
dan sisanya diolah oleh Koperasi atau dikonsumsi langsung. Untuk mensuplai
kebutuhan susu nasional sekitar 1.167.561 ton/tahun, sekitar 59 % atau 687.914
ton/tahun masih diimpor dari luar negeri dalam bentuk bahan baku maupun bahan jadi
seperti susu, mentega, yogurt, whey dan keju, namun ekspor juga dilakukan ke
beberapa negara.
Perkembangan usaha ternak di suatu daerah dipengaruhi oleh faktor internal
peternak dan faktor lingkungan. Sudono dan Sutardi (1980) berpendapat bahwa
kemampuan produksi sapi sekitar 30 % ditentukan oleh faktor genetik dan 70 % oleh
faktor lingkungan (iklim, ransum, sosial ekonomi dan manajemen). Produktivitas
usaha ternak rakyat yang masih rendah disebabkan karena manajemen usaha ternak
dan kualitas pakannya sangat tidak memadai. Untuk memperbaikinya, tidak hanya
sebatas mengubah sikap peternak tetapi juga menyediakan stok bibit yang baik dan
bahan pakan yang berkualitas. Namun demikian, sebenarnya bibit sapi perah unggul
tidak kurang, karena kualitas genetik sapi perah dapat diperbaiki dengan inseminasi
buatan yakni dengan menggunakan semen unggul, namun masalahnya koperasi, Dinas
Peternakan ataupun GKSI hanya mempertimbangkan harga yang murah, padahal
harga yang ditawarkan BIB Singosari Rp 6.000,00/ dosis dengan kualitas bagus dan
bersertifikat dengan standar untuk Asia Pasifik. Produksi semen sapi perah di BIB
tersebut mencapai 600.000 dosis per tahun, tapi yang terjual baru 15-20 %.
Suatu peternakan dikatakan berhasil jika memenuhi tiga faktor yang saling
menunjang yaitu pemuliabiakan (“breeding”), ransum (‘feeding”) dan pengelolaan
(“manajement”). Ketiga aspek tersebut mempunyai peranan yang sama sehingga
merupakan suatu gambaran segi tiga sama sisi. Jika ketiga faktor tersebut dijalankan
secara ekonomis dan efisien, maka akan menghasilkan output atau produk yang
maksimal (Suharno, 1994). Hal ini sejalan dengan Ditjen Peternakan (1991), bahwa
pelaksanaan Sapta Usaha Ternak (pemilihan bibit dan reproduksi, pakan ternak,
tatalaksana pemeliharaan, perkandangan, kesehatan ternak, pasca panen dan
pemasaran) merupakan salah satu aspek untuk mengukur keberhasilan beternak sapi
perah. Keberhasilan beternak sapi perah itu sendiri secara nyata dapat diukur dari
adanya peningkatan produksi susu per ekor per hari dan kualitas susu yang tergolong
baik. Dengan tingkat produksi dan kualitas yang tinggi maka pendapatan pun akan
tinggi.
Ada beberapa hal yang sering menimbulkan hambatan bagi peningkatan usaha
ternak sapi perah di Indonesia yaitu iklim, permodalan, pemasaran yang yang belum
maju, kekurangan tenaga ahli, komunikasi atau sarana transfortasi yang sulit. Selain
itu, sikap peternak sapi perah yang kurang mandiri terutama dalam merebut
kesempatan usaha yang ada menjadi kendala pencapaian skala pemilikan optimum.
Dengan demikian kemandirian peternak sapi perah merupakan cerminan dari kesiapan
mereka dalam persaingan usaha yang sangat kompetitif baik secara fisik, mental
maupun strategi untuk dapat mempertahankan mata pencaharian mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar